Untitled Document

 
Script InterMedia
 
HomeProfil Produk & Layanan | Tim Kerja | Portfolio | Kontak | Galeri Foto | Proposal RQC | Demo RQC
Untitled Document
Profil Yuhardin
Y U H A R D I N
CEO Script InterMedia

M: +62853 4292 1117
Pin BB: 3156C99B

Email: ceo@scriptintermedia.com
Fb: Yuhardin Ssi
 
 

    News
Google
 


Senin, 26-04-2010 
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PEMBENTUK CITRA KANDIDAT PADA PILKADA 2010 KABUPATEN SUMBAWA BARAT
 
MAGISTER MANAJEMEN UNRAM 2008 1. Latar Belakang
Dalam era demokrasi yang masih muda di Indonesia, persaingan dalam kancah politik semakin kian ketat. Sebagaimana diketahui pada pemilu 2009, kandidat-kandidat yang berkompetisi bersaing dalam membangun citranya untuk mengukuhkan pencitraan dirinya (Heryanto, 2009). Dalam membangun pencitraan, para kandidat dibantu oleh tim sukses dan konsultan pencitraan.
 
Pesan yang dibangun dalam membangun citra, para tim sukses menggunakan berbagai media. Pesan verbal dan visual dikemas dalam bentuk iklan politik menggunakan iklan koran, televisi, dan radio. Selain itu pencitraan dilakukan melalui baliho, spanduk, umbul-umbul, poster, dan pamflet kepada calon pemilih. Agar unggul dalam persaingan, salah satu cara yang digunakan oleh para kandidat adalah dengan kemampuan mengelola dan menyampaikan informasi kepada khalayak sehingga diharapkan terjadi pencitraan yang baik (Mustofa, 2009).
Gambaran di atas merupakan selintas fenomena tentang penggunaan praktik fungsi pemasaran dalam kancah politik khususnya penggunaan citra politik. Penggunaan fungsi pemasaran dalam politik dikenal dengan pemasaran politik (Political Marketing). Dalam konsep pemasaran politik, program kerja calon pemimpin politik disamakan dengan produk barang dan jasa, artinya, bisa ''dijual-belikan'' melalui pendekatan advertorial. Kualitas pribadi tokoh, seperti postur fisik, kecakapan, hobi, prestasi, rekam jejak, dan kemampuan tertentu seperti kredibilitas, kapasitas, serta kompetensi tokoh yang dianggap istimewa, bisa ''dipromosikan'' sebagai bentuk pencitraan diri (Mustofa, 2009).
Pemasaran politik, tidaklah jauh berbeda dengan pemasaran bisnis. Perbedaan terlihat pada tujuan akhir, yaitu pada pemasaran bisnis tujuan adalah peningkatan penjualan dan usaha mempertahankan hubungan dengan pelanggan sedangkan pemasaran politik tujuannya adalah perolehan suara untuk mencapai kemenangan baik itu dalam pemilihan anggota legislatif maupun eksekutif.
Pemasaran politik dan pemasaran bisnis/komersial secara umum mempunyai keterkaitan secara resiprokal. Dampak pemasaran politik bersifat resiprokal artinya politik mempengaruhi pemasaran yang pada akhirnya fungsi pemasaran akan mempengaruhi opini untuk membangun dukungan politik (Candif & Hilger 1982). Dimana aplikasinya di Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) mengincar terbentuknya makna-makna politik dalam benak konsumen melalui stimulus produk politik. Makna-makna itulah yang yang dikenal dengan citra politik yang akhirnya akan mengarahkan pilihan pemilih.
Berkaitan dengan pemasaran politik, dimana para kandidat yang maju dalam PILKADA sering menggunakan politik citra dalam persaingan perebutan kursi nomor satu di suatu daerah. Dalam dunia pencitraan, citra dan realitas menjadi dua kutub yang terus tarik menarik. Citra telah berubah menjadi sebuah mesin politik yang bergerak kian cepat. Strategi pencitraan dan teknologi pencitraan atau imagologi dikemas sedemikian rupa untuk mempengaruhi persepsi, emosi, perasaan, kesadaran, dan opini publik sehingga mereka dapat digiring ke sebuah preferensi, pilihan dan keputusan politik tertentu (Assyari, 2009).
Pengunaan politik citra yang akhir-akhir ini sering digunakan dalam PILKADA tak ubahnya sebagai senjata yang ampuh di tengah masyarakat yang masih dipertanyakan pendidikan politiknya. Politik citra memang efektif untuk menarik simpati rakyat untuk memilih pemimpin yang menggunakan politik citra tersebut. Kotler (2006) menyatakan bahwa dalam rangka menghadapi perubahan-perubahan yang ada, perusahaan berkomunikasi/berpromosi dengan atau kepada calon pelanggannya mengembangkan suatu proses komunikasi yang terintegrasi (Integrated Marketing Commuication/IMC) yang didefinisikan sebagai suatu proses berkomunikasi dengan memberikan nilai tambah atau citra perusahaan secara lengkap.
Pemasaran politik dalam sebuah Pemilihan Umum (Pemilu) memainkan peran yang sangat penting karena merupakan bagian dari aktivitas dalam rangka mempengaruhi khalayak pemilih. Kampanye merupakan sebuah strategi dari pemasaran politik yaitu dengan mengemas pesan politik secara intensif dalam kurun waktu tertentu yang terbatas, guna mendapatkan pengaruh di kalangan khalayak pemilih, sehingga dengan demikian khalayak pemilih akan mendukung dan menjatuhkan pilihan pada kandidat yang mengkampanyekan dirinya tersebut.
Di samping keberhasilan yang dapat diantarkan oleh politik citra, juga politik citra dapat berujung menjadi bumerang bagi kandidat yang menggunakannya (Mustofa, 2009). Hal ini karena politk citra tak lebih dari pemilihan image politik individu atau lembaga. Bukan calon kepala daerahnya, tetapi image-nya. Citraan-citraan itulah yang dijual dalam pencalonan, kampanye dan janji-janji politiknya. Dalam PILKADA langsung orang dituntun memilih berdasarkan image. Namun dalam teori Marxis dikatakan bahwa orang seringkali terjebak dengan citra, karena memilih dengan kesadaran palsu, membeli citraan yang palsu. Ketika dia sudah membeli baru ketahuan banyak hal yang buruk (Assyari, 2009).
Kontradiksi juga terjadi dalam penggunaan politik citra, Rizal (2008) mengatakan bahwa angka tingkat partisipasi pemilihan berbagai even Pemilu selalu rendah atau angka golput yang tetap tinggi, salah satu alasannya adalah rasa “tidak memiliki” publik terhadap berbagai even politik yang menurut sebagian mereka tidak banyak berdampak pada perbaikan kualitas hidup mereka karena hanya dipandang sebagai obyek saja sehingga ada baiknya para pelaku politik mulai memperlakukan para pemilih dan simpatisan layaknya sebagai pelanggan yang banyak dipahami dalam pemasaran komersial/bisnis. Tentunya hal ini bertentangan dengan beberapa kenyataan bahwa politik citra yang digunakan dalam ajang PILKADA oleh kandidat justru memberikan sumbangsih suara yang cukup signifikan untuk kemenangan sang kandidat. Imagologi politik dalam tahapan PILKADA ini mengarah pada semacam diskontinuitas antara citra politik dan realitas politik, sehingga teknologi pencitraan merekonstruksi semacam realitas kedua (second reality) yang di dalamnya kebenaran dimanipulasi.
Dalam upaya mencari dukungan pemilih, para kandidat menggunakan politik citra dengan menjejali masyarakat dengan iklan yang berisi slogan-slogan, jingle-jingle, serta program-program populis dengan maksud untuk mengiming-iming masyarakat agar menjatuhkan pilihan terhadapnya. Hal ini dalam istilah pemasaran komersial/bisnis secara umum dikondisikan sebagai banyaknya produk yang dihasilkan oleh dunia usaha yang sejenis maka semakin menuntut perusahaan tersebut untuk dapat bersaing. Salah satu strategi agar suatu organisasi mampu bersaing adalah dengan membangun citra yang baik di mata konsumen maupun publik.
Hal ini penting untuk dilakukan karena citra dapat mempengaruhi persepsi konsumen maupun publik, sehingga citra dapat mempengaruhi proses pembelian produk atau jasa, Zeithaml dan Bitner (1996) dalam Suhartanto (2001). Oleh karena itu citra menjadi salah satu faktor penting bagi keberhasilan pemasaran suatu bisnis. Sebuah keberhasilan atau kemajuan yang didapat oleh perusahaan akan sangat sulit dipertahankan dan yang sangat menentukan adalah tingkat loyalitas konsumen pada perusahaan, dan sebuah citra konsumen pada perusahaan akan menjadi kunci utamanya.
Demikian juga dengan citra atau politik citra dalam kaitannya dengan pemasaran politik pada pelaksanaan PILKADA khususnya PILKADA 2010 Kabupaten Sumbawa Barat. Dimana pada PILKADA 2010 Kabupaten Sumbawa Barat hanya dua kandidat yang maju yang memenuhi sarat verifikasi KPU. Walaupun hanya dua paket kandidat yang bersaing, namun kelihatannya segala program promosi dan peningkatan harga atau nilai kandidat telah lama kelihatan dan menyemarakkan panggung politik di Kabupaten Sumbawa Barat. Politik citra (Astuti, 2008) telah digunakan dalam rangka menarik simpati masyarakat pemilih. Citra Kandidat tersebut diperoleh melalui penggunaan iklan oleh kandidat (Astuti, 2008) yang maju dalam PILKADA. Iklan kandidat yang dipasang melalui baliho, spanduk, stiker di tempat-tempat strategis kota Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat, untuk mengenalkan para kandidat dan memudahkan pengingatan bagi pemilih.
Selain pengenalan melalui pemasangan iklan, promosi juga dilakukan melalui publisitas oleh kandidat (Astuti, 2008) yaitu pengenalan kandidat beserta program dan janji politiknya lewat media cetak dan elektronik. Tentunya media ini cukup efektif dalam membentuk pengingatan kembali oleh pemilih ketika saat pemilihan. Pengingatan kembali yang kuat tentunya akan menguntungkan kandidat yang berarti kandidat tersebut memiliki citra yang baik di mata masyarakat dan mempunyai kelayakan dan kemampuan untuk dipilih menjadi pemimpin.
Perencanaan strategi komunikasi yang tepat dan penyajian pesan yang unik sudah barang tentu bisa menjadi faktor kuat yang bisa mendongkrak keberhasilan perolehan suara para kandidat (Rauf, 1993; Saverin & Tankard, 2001; McQuail, 1987). Pesan yang unik selanjutnya akan meningkatkan citra kandidat yang pada akhirnya akan meningkatkan perolehan suara pemilih.

24 Maret jam 2:12
#
MAGISTER MANAJEMEN UNRAM 2008 2. Rumusan Masalah
2.1. Bagaimanakah Citra Kandidat Pasangan Bupati/Wakil Bupati PILKADA 2010 Kabupaten Sumbawa Barat di Daerah Pemilihan Kecamatan Taliwang.
2.2. Faktor-faktor apa sajakah yang menentukan dalam pembentukan Citra Kandidat Bupati/Wakil Bupati PILKADA 2010 Kabupaten Sumbawa Barat di Daerah Pemilihan Kecamatan Taliwang.

3. Batasan Masalah
Untuk menghindari terjadinya perbedaan penafsiran terhadap objek, tempat, variabel yang digunakan dalam penelitian ini maka dibuat batasan masalah penelitian, bahwa penelitian ini terbatas pada analisis citra dan faktor-faktor apa saja yang membentuk Citra Kandidat Bupati/Wakil Bupati PILKADA 2010 Kabupaten Sumbawa Barat di Daerah Pemilihan Kecamatan Taliwang.

4. Tujuan Penelitian.
4.1. Untuk mengetahui bagaimanakah Citra Kandidat pasangan Bupati/Wakil Bupati PILKADA 2010 Kabupaten Sumbawa Barat di Daerah Pemilihan Kecamatan Taliwang.
4.2. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menentukan dalam pembentukan Citra Kandidat Bupati/Wakil Bupati PILKADA 2010 Kabupaten Sumbawa Barat di Daerah Pemilihan Kecamatan Taliwang.

5. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini sebagai berikut:
5.1 Secara akademik, untuk memenuhi sebagian syarat memperoleh predikat Magister Manajemen pada Universitas Mataram.
5.2 Sebagi referensi untuk penelitian selanjutnya dalam melakukan kajian yang sejenis.

6. Keaslian Penelitian
Dalam peneltian ini terdapat berbagai kutipan dari penelitian terdahulu yang semata-mata digunakan sebagai rujukan penelitian. Peneltian ini adalah asli karena belum pernah diteliti sebelumnya di Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat.
24 Maret jam 2:13
#
MAGISTER MANAJEMEN UNRAM 2008 7. Tinjauan Pustaka dan Landasan Teori
7.1 Tinjauan Pustaka
Syafei, Yani M. (2004) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Citra Merek Dan Penyampaian Jasa Bengkel Resmi Terhadap Nilai Pelanggan Serta Dampaknya Pada Keputusan Pembelian Pelanggan; (Suatu Survey Terhadap Kendaraan MPV 2000 cc ke bawah Pada Bengkel Resmi Dealer Mobil Di Bandung)”, Dalam penelitiannya ditemukan bahwa keberadaan bengkel tidak dapat dipisahkan dengan kendaraannya, dimana pelayanan jasa bengkel pada bengkel resmi suatu dealer mobil akan menjadi suatu jaminan terhadap suatu merek mobil tertentu supaya tetap diminati oleh konsumen sehingga setiap dealer mobil dituntut untuk meningkatkan citra merek bengkelnya yang lebih baik. Penelitian ini bersifat deskriptif dan verifikatif, sedangkan analisis data dengan menggunakan analisis jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total pengaruh citra merek lebih besar dibandingkan penyampaian jasa bengkel resmi terhadap nilai pelanggan, dan begitu juga terhadap keputusan pembelian pelanggan. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pelanggan beranggapan popularitas nama bengkel menjadikan manfaat jasa bengkel resmi yang sangat besar dan merupakan bagian yang penting dalam pemilihan suatu jasa bengkel, sehingga sedemikian rupa memberikan keyakinan akan jasa bengkel yang handal dan berkualitas.
Meilani, (2007) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis pengaruh citra produk kosmetik Sariayu Martha Tilaar terhadap keputusan pembelian (studi pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret di Surakarta), penelitiannya tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah citra produk kosmetik Sariayu Martha Tilaar yang ditimbulkan oleh kualitas, harga, mode, iklan, dan distribusi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian secara individu dan bersama-sama, dan untuk mengetahui variabel manakah yang paling dominan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian. Berdasarkan tujuan tersebut dalam penelitiannya dirumuskan beberapa permasalahan yaitu apakah citra produk kosmetik Sariayu Martha Tilaar yang ditimbulkan oleh kualitas, harga, mode, iklan, dan distribusi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian secara individu dan bersama-sama, dan untuk mengetahui variabel manakah yang paling dominan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian. Penelitian dilakukan dengan metode survei dimana data diperoleh dengan penyebaran kuesioner kepada responden. Populasi dalam obyek penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta. Sedangkan sampel dalam obyek penelitian ini adalah sebanyak 100 orang responden. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode Convenience Sampling (dimana sampel yang diambil adalah siapa saja yang kebetulan ditemui dan dipandang sesuai sebagai sumber data). Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif, uji validitas dan uji reliabilitas serta menggunakan analisis kuantitatif melalui analisis regresi linear berganda, uji t, uji F dan uji koefisien determinasi (R2). Dari uji t disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara citra produk kosmetik Sariayu Martha Tilaar yang ditimbulkan oleh kualitas, harga, mode, iklan, dan distribusi secara individu terhadap keputusan pembelian. Dari uji F diperoleh hasil bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara citra produk kosmetik Sariayu Martha Tilaar yang ditimbulkan oleh kualitas, harga, mode, iklan, dan distribusi secara bersama-sama terhadap keputusan pembelian. Dari hasil uji t diatas didapat bahwa kualitas mempunyai nilai t hitung yang paling besar diantara variabel lainnya, hal ini berarti bahwa kualitas merupakan variabel yang paling dominan mempunyai pengaruh terhadap keputusan pembelian produk kosmetik Martha Tilaar. Berdasarkan uji koefisien determinasi (R2) diperoleh hasil bahwa variasi perubahan variabel atau proporsi keputusan pembelian produk kosmetik Sariayu Martha Tilaar benar-benar dijelaskan oleh variasi perubahan variabel kualitas, harga, mode, iklan, dan distribusi sedangkan sisanya yaitu sebesar 40,7% diterangkan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam model.
Sinaga, Verawati (2008) dalam penelitiannya yang berjudul ”Pengaruh Citra Merek (Brand Image) Terhadap Proses Keputusan Pembelian Konsumen (Studi Pada Pengguna Kosmetik Merek Avon Di Kota Bandung)”, dalam penelitiannya tersebut ditemukan bahwa bahwa Citra Merek Avon dibenak sebagian besar konsumen adalah positif, sehingga semakin positif persepsi konsumen terhadap citra merek maka semakin besar pula proses keputusan pembelian konsumen terhadap kosmetik merek Avon di kota Bandung. Berdasarkan hasil penelitian pada PT Avon Indonesia mengenai pengaruh citra merek terhadap proses keputusan pembelian konsumen kosmetik merek Avon di wilayah kota Bandung dengan menggunakan koefisien korelasi rank spearman didapat nilai koefisien korelasi sebesar 0,452 sedangkan koefisien determinasi sebesar 20,43 %. Hal ini berarti bahwa pengaruh citra merek terhadap proses keputusan pembelian konsumen yaitu sebesar 20,43 % sedangkan sisanya sebesar 79,57 % dipengaruhi faktor lain.
Widji Astuti, (2008) dalam penelitiannya yang berjudul “Peranan Pemasaran Politik Kandidat Dalam Meyakinkan Pemilih Pada PILKADA Kota Malang ”Dalam penelitiannya yang berusaha mengidentifikasi bauran pemasaran politik kandidat pada PILKADA kota Malang serta menganalisis peranan pemasaran politik kandidat PILKADA kota Malang dalam meyakinkan pemilih. Penelitian tersebut menggunakan kuesioner yang bersifat tertutup. Sedangkan data kuesioner yang diambil mencakup beberapa factor, yaitu: Citra kandidat (X1), Kemampuan orasi/debat (X2), Program yang ditawarkan (X3), untuk factor promosi : Iklan kandidat (X4), Publisitas kandidat (X5), untuk factor distribusi : kesediaan menemui dan bersama masyarakat (X6), kesediaan mendatangi tokoh masyarakat (X7), Dukungan partai politik (X8), dan factor harga : kelayakan kandidat untuk memimpin (X9), percaya akan keberhasilan kandidat (X10), dan keyakinan pemilih akan pilihannya (Y). Koefisien determinasi sebesar 0,543 menunjukkan bahwa proporsi bauran pemasaran dalam menjelaskan keyakinan pemilih adalah sebesar 54,3%. Uji model dilakukan dengan membandingkan nilai F hiting (66,198) dan F tabel (2,245), yang membuktikan bahwa model terbukti mampu menjelaskan keyakinan pemilih. Secara keseluruhan, semua variabel mempengaruhi keyakinan pemilih, artinya semua item dapat dilakukan kandidat untuk mempengaruhi calon pemilih, namun karena berdasarkan uji signifikansi masing-masing variabel menunjukkan bahwa atribut yang nyata diterima untuk meyakinkan pemilih adalah Citra kandidat (X1), Program yang ditawarkan kandidat mengatasi persoalan masyarakat (X3), Iklan yang dilakukan (X4), kesediaan menemui konstituen (X7) dan Percaya kandidat akan berhasil (X10), maka variabel lain yang diamati dalam penelitian ini tidak berpengaruh menumbuhkan keyakinan pemilih. Namun setelah dikaji satu demi satu dari atribut tersebut ternyata cenderung dalam pemilihan PILKADA Kota Malang ini hanya 5 atribut saja. Hal ini terjadi karena adanya pasangan incumbent dalam PILKADA ini yang membuat pertimbangan lain menjadi tertutup oleh karena ada kandidat yang sudah dikenal, program dan keberhasilan yang jelas dan lebih pasti.
Andrea Muljono, (2009) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Efektivitas Iklan Di Situs Lokal” mengidentifikasi fakor-faktor apa yang kiranya dapat berpengaruh terhadap efektivitas iklan ini . Faktor – faktor yang berpengaruh ini meliputi budaya dari pengguna internet, letak geografis pengguna internet, jenis kelamin pengguna internet, status pekerjaan dari pengguna internet, dan informasi dari lingkungan yang didapat oleh pengguna internet serta tampilan dari iklan di internet. Keenam faktor ini berpengaruh terhadap efektivitas iklan di internet yang diukur berdasarkan preferensi dari pengguna internet terhadap suatu produk yang diiklankan di internet, kesadaran pengguna internet terhadap suatu produk yang ditawarkan melalui iklan di internet, dan keinginan dari pengguna internet terhadap suatu produk yang ditawarkan melalui iklan di internet. Dari keenam faktor yang berpengaruh terhadap efektivitas iklan di internet, hanya ada tiga faktor yang cukup significant yaitu: tampilan iklan, budaya dari pengguna internet dan informasi yang didapat oleh pengguna dari lingkungan. Masih terdapat faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi efektivitas iklan di internet ini karena pada hasil analisis terlihat bahwa prediktor yang terdiri dari keenam faktor tersebut hanya dapat menjelaskan efektivitas iklan di internet sebesar 67.2 %.
Berdasarkan penelitian terdahulu di atas dapat dibuat beberapa catatan mengenai persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan ini. Penelitian ini mempunyai persamaan dan perbedaan dengan penelitian terdahulu, seperti dengan penelitian yang dilakukan oleh Astuti (2008) yaitu sama menggunakan paradigma pemasaran politik, namun pada penelitian ini lebih dikhususkan pada analisis Citra Kandidat dan faktor-faktor yang pembentuknya pada PILKADA 2010 Kabupaten Sumbawa Barat pada Daerah Pemilihan Kecamatan Taliwang, sedangkan pada penelitian Astuti (2008) menggunakan factor-faktor dari bauran pemasaran politik. Berdasarkan teknik analisis maka penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yaitu Syafei (2004) menggunakan analisis jalur dengan jenis penelitian deskriptif veripikatif; dan Meilani (2007) menggunakan analisis regresi dalam meneliti Pengaruh Citra Produk Terhadap Keputusan Pembelian; Sinaga (2008) menggunakan menggunakan analisis regresi sederhana untuk mengetahui bagaimana hubungan Citra Merek terhadap Keputusan Pembelian; Penelitian ini memiliki kesamaan dengan Andrea Muljono (2009) dalam hal mengidentifikasi fakor-faktor apa yang kiranya dapat berpengaruh terhadap suatu objek penelitian namun berbeda pada objek dan produk yang ditelitinya, Andrea Muljono (2009) mengidentifikasi fakor-faktor apa yang kiranya dapat berpengaruh terhadap efektivitas iklan ini di situs lokal.
Berdasarkan perbedaan dan persamaan dengan telah dikemukakan sebelumnya maka penelitian ini dijelaskan sebagai penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif yaitu menggunakan analisis faktor (factor analysis). Penelitian ini menggambarkan tentang bagaimana Citra Kandidat dan melakukan analisis faktor-faktor apa saja yang membentuk Citra Kandidat pada PILKADA 2010 Kabupaten Sumbawa Barat di Daerah Pemilihan Taliwang.
24 Maret jam 2:14
#
MAGISTER MANAJEMEN UNRAM 2008 7.2 Landasan Teori
Kotler & Keller (2006) mengatakan bahwa strong brand is a valuable asset. Merek yang kuat merupakan suatu asset yang berharga sehingga citra merek perlu dibangun dan dikelola dengan baik. Dalam mengelola citra merek, para produsen perlu mengkomunikasikannya kepada konsumen dengan baik dan kontinyu. Sedangkan pelanggan akan membentuk suatu harapan-harapan yang didasarkan pada pengalaman masa lalu, opini teman sejawat, informasi dari para pembeli dan pesaing, dan janji-janji dari para produsen kepada konsumen. Merek perlu dikelola dan dibangun oleh produsen dalam upaya menunjang perkembangan perusahaan dalam jangka panjang, dengan menyampaikan informasi yang benar dan kontinyu kepada pelanggan, sesuai yang dijelaskan oleh Aperia (2001, yang dikutip dalam Morling & Strannegard (2004) bahwa membangun merek adalah merupakan suatu aktivitas dengan tujuan membedakan suatu merek tertentu melalui penciptaan suatu hubungan (relationship) antara merek dengan pembeli atau pelanggan. Tujuan pengelolaan merek melalui penciptaan hubungan (relationship) dengan pelanggan yaitu untuk menumbuhkan kepercayaan pelanggan akan pentingnya oleh konsumen. Pelayanan, sebagaimana yang dijelaskan oleh Alba & Hutchinson (1987), yang dikutip dari Youl Ha (2004) bahwa keakraban merek yaitu merupakan suatu variabel yang berlanjut yang mencerminkan tingkat pengalaman pelanggan dengan produk, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Oleh karena fanatisme merek sudah melekat dalam ingatan pelanggan sehingga menjadikan perilaku pelanggan pembelian produk atau jasa, disebabkan citra merek produk atau jasa yang positif.
Sesuai dengan pendapat Cravens & Piercy (2006) bahwa sikap pembeli terhadap merek merupakan hal yang penting karena temuan riset dan pengalaman menunjukkan bahwa sikap (attitude) mempengaruhi perilaku (behavior). Dan dipertegas (Kotler & Keller, 2006) bahwa melalui proses belajar, orang akan memperoleh kepercayaan dan sikap. Pemasar akan tertarik terhadap kepercayaan (beliefs), dimana konsumen akan memformulasikan mengenai produk atau jasa, karena kepercayaan (beliefs) ini akan memperindah produk dan citra merek sehingga mempengaruhi perilaku pembelian. Jasa yang disampaikan oleh produsen jasa harus mampu menjawab sesuai dengan keinginan konsumen dan memenuhi harapan pelanggan sehingga dapat membangun hubungan pelanggan yang baik (Rust & Zahorik etal., 1993, yang dikutip dalam Venetis & Ghauri (2004).
24 Maret jam 2:15
#
MAGISTER MANAJEMEN UNRAM 2008 7.2.1 Citra
Kotler (1997) menyatakan "Citra adalah persepsi masyarakat terhadap perusahaan". Lebih lanjut Kotler dan Andersen (1995) mengatakan bahwa Citra adalah akumulasi dari belief (kepercayaan), idealis (pemikiran) dan impresion (imprisi) seseorang pada suatu obyek. Sedangkan dalam (1998) menyatakan "Citra adalah merupakan kesan, impresi, perasaan atau konsepsi yang ada pada publik, mengenai perusahaan, mengenai suatu obyek, orang atau lembaga". Citra mengenai perusahaan, mengenai suatu obyek, orang atau lembaga". Citra terbentuk dari bagaimana perusahaan merancang identitasnya untuk membentuk citra dalam masyarakat dengan melaksanakan kegiatan operasionalnya yang mempunyai landasan utamanya pada segi pelayanannya.
Smith (1995) menyatakan bahwa citra perusahaan adalah persepsi seseorang mengenai citra organisasi dan persepsi-persepsi ini diciptakan melalui suatu indera ; penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, cita rasa dan perasaan yang dialami melalui penggunaan produk, pelayanan konsumen, lingkungan komersil dan komunikasi perusahaan melalui kegiatan promosi,itu merupakan hasil dari setiap perusahaan yang dilakukan atau yang tidak dilakukan.
Demikian juga Le Blanc dan Nguyen (1996) berpendapat bahwa citra perusahaan (corporate image) dibangun melalui komponen-komponen identitas perusahaan, reputasi perusahaan, sarana fisik, harga yang ditawarkan, kualitas jasa dan personal yang mengoperasikan dan menyampaikan jasa.
Berdasarkan uraian diatas maka citra adalah persepsi masyarakat terhadap perseorangan/perusahaan atas komponen-komponen identitas perusahaan, reputasi perusahaan, sarana fisik, harga yang ditawarkan, kualitas jasa dan personal yang mengoperasikan dan menyampaikan jasa.
7.2.2 Persepsi
Persepsi konsumen menjadi masalah yang penting untuk dapat menempatkan posisi sebuah produk berdasarkan atributnya, karena persepsi disini merupakan faktor dasar yang mampu mendorong konsumen melakukan pembelian atau membentuk perilaku konsumsinya (Kanuk,1997). Persepsi terbentuk dari serangkaian informasi dan atribut yang terkait dengan kebutuhan. Informasi ini bisa bersifat intrinsik yang terkait langsung dengan produk, seperti warna, ukuran dan sejenisnya, dan bisa juga bersifat ekstrinsik yang tidak terkait langsung dengan produk seperti penempatan merek, harga, citra, layanan atau pesan promosi.
Menurut Kotler (1997) persepsi adalah proses memilih, menata, menafsir stimuli yang dilakukan seseorang agar mempunyai arti tertentu. Stimuli adalah rangsangan fisik, visual dan komunikasi verbal dan non verbal yang dapat mempengaruhi respon seseorang (Sodik, 2003). Assael (1995) dalam Sodik (2003) menyebutkan bahwa persepsi terhadap suatu produk melalui proses itu sendiri terkait dengan komponennya (kemasan, bagian produk, bentuk) serta komunikasi yang ditunjukkan untuk mempengaruhi perilaku konsumen yang mencerminkan produk melalui latar kata-kata, gambar dan simbolisasi atau melalui stimuli lain yang diasosiasikan dengan produk (harga, tempat, penjualan, dampak dari negara pejualan). Informasi yang diperoleh dan diproses konsumen akan membentuk preferensi (pilihan) seseorang terhadap suatu obyek. Preferensi akan membentuk sikap konsumen terhadap suatu obyek, yang pada gilirannya akan sikap ini seringkali secara langsung akan mempengaruhi apakah konsumen akan membeli suatu produk atau tidak.
Thoha (1986) menyatakan bahwa pada hakikatnya persepsi merupakan proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan, dan penciuman. Persepsi merupakan pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.
Rahmat (2004) mengatakan bahwa persepsi merupakan proses kognitif, dimana seseorang individu memberikan arti kepada lingkungan. Mengingat bahwa masing-masing orang memberi artinya sendiri terhadap stimulus, maka dapat dikatakan bahwa individu-individu yang berbeda “melihat” hal sama dengan cara- cara yang berbeda (Winardi, 2004). Hal yang sama dikemukakan Robbins (2001) mengemukakan mengenai persepsi adalah suatu proses dimana individu-individu mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna kepada lingkungan mereka.
Persepsi merupakan proses yang bersifat individual, jadi meskipun stimulusnya sama, tetapi karena perbedaan pengalaman, kemampuan berfikir, kerangka acuan, sehingga hasil persepsi antara individu satu dengan yang lain tidak sama. Keadaan tersebut memberikan sedikit gambaran bahwa persepsi itu memang berbeda-beda pada setiap orang sehingga dalam persepsi terdapat beberapa faktor yang memengaruhi dalam persepsi.
Irwanto (1998) menyatakan bahwa persepsi merupakan proses diterimanya rangsang (objek, kualitas, hubungan antar gejala maupun peristiwa) sampai rangsang itu disadari dan dimengerti. Menurut Walgito (2002) persepsi adalah suatu peristiwa yang didahului oleh proses pengindraan, yaitu proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indra. Walgito (2003) juga menyatakan bahwa persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh pengindraan, pengindraan adalah merupakan suatu proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indra. Namun proses tersebut tidak berhenti begitu saja, pada umumnya stimulus tersebut diteruskan oleh syaraf ke pusat susunan syaraf (otak) dan proses selanjutnya proses persepsi yang terjadi di otak. Proses pengindraan terjadi setiap individu meneriman stimulus yang mengenai dirinya melalui alat indra. Stimulus yang mengenai individu itu kemudian diorganisasikan dan diinterpretasikan sehingga individu menyadari apa yang diindranya itu, proses inilah yang dimaksud persepsi.
Untuk menyadari atau untuk mengadakan persepsi diperlukan adanya perhatian yaitu merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam rangka mengadakan persepsi. Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang diajukan kepada sesuatu atau sekumpulan objek.
Persepsi merupakan proses yang bersifat individual, jadi meskipun stimulusnya sama, tetapi karena perbedaan pengalaman, kemampuan berfikir, kerangka acuan, sehingga hasil persepsi antara individu satu dengan yang lai tidak sama. Keadaan tersebut memberikan sedikit gambaran bahwa persepsi itu memang berbeda-beda pada setiap orang sehingga dalam persepsi terdapat beberapa faktor yang memengaruhi dalam persepsi.
Persepsi konsumen menurut Robbins (1998:90) adalah proses dimana seseorang mengorganisir dan mengartikan kesan dari panca indera dalam tujuan untuk memberi arti bagi lingkungan mereka. Persepsi konsumen ini sangat penting dipelajari karena perilaku konsumen didasarkan pada persepsi mereka. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi menurut Robbins (1998) adalah: 1. The Perceiver: karakter individu yang bersangkutan, karakter tersebut dipengaruhi oleh sikap, motivasi, minat, pengalaman, serta harapan atau ekspektasi. 2. The Target: karakteristik dan sifat dari obyek setelah diteliti dapat mempengaruhi apa yang dirasakan. 3. The Situation: situasi mempengaruhi persepsi manusia. Waktu dan dimana obyek atau kejadian itu terlihat akan mempengaruhi perhatian. Pendidikan yang baik dan berkualitas dapat menghasilkan orang yang berkualitas
Persepsi terhadap sesuatu berasal dari interaksi antara dua jenis faktor, (Schiffman dan Kanuk, 2000), yaitu: 1. Stimulus Factors: karakteristik obyek seperti ukuran, warna, berat, atau bentuk. Tampilan suatu produk atau jasa mampu menciptakan suatu persepsi mengenai produk yang dilihat atau dialaminya. 2. Individual Factors: persepsi konsumen merupakan suatu proses penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki oleh konsumen untuk mendeteksi, mengumpulkan, dan menafsirkan stimulus yang diterima oleh alat indera menjadi arti tertentu yang bermakna.
Sedangkan menurut Widayatun (1999) pengertian persepsi atau tanggapan adalah proses mental yang terjadi pada diri manusia yang akan menunjukkan bagaimana kita melihat, mendengarkan, merasakan, memberi serta meraba(kerja indra) di sekitar kita. William James mengatakan, persepsi adalah suatu pengalaman yang tebentuk berupa data-data yang didapat melalui indra, hasil pengolahan otak dan ingatan. Proses terjadinya persepsi adalah karena adanya objek/stimulus yang meransang untuk ditangkap panca indera (objek tersebut menjadi perhatian panca indera) kemudian stimulus/objek perhatian tadi dibawa keotak. Dariotak terjadi adanya kesan atau respon adanya stimulus, berupa kesan atau respon dibalikkan keindera kembali berupa “tanggapan”atau persepsi atau hasil kerja indera berupa pengalaman hasil pengolahan otak (Widayatun, 1999).
Proses terjadinya persepsi ini perlu penomena, dan terpenting penomena dari persepsi ini adalah “perhatian” atau “attention”. Pengertian perhatian itu sendiri adalah suatu konsep yang diberikan pada proses persepsi yang menseleksi input-input tertentu untuk diikutsertakan dalam suatu pengalaman yang kita sadari/kenal dalam suatu waktu tertentu. Perhatian sendiri mempunyai ciri khusus yaitu terfokus, margin dan berubah-ubah.
7.2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Citra
Demikian juga secara singkat Kotler (2006) menyatakan bahwa dalam rangka menghadapi perubahan-perubahan yang ada, perusahaan berkomunikasi/berpromosi dengan atau kepada calon pelanggannya mengembangkan suatu proses komunikasi yang terintegrasi (Integrated Marketing Commuication/IMC) yang didefinisikan sebagai suatu proses berkomunikasi dengan memberikan nilai tambah atau citra perusahaan secara lengkap. Pendapat ini didukung oleh George Michael (1999) bahwa dalam rangka melakukan strategi komunikasi data diakukan dengan berbagai cara seperti; periklanan, pemasaran langsung, promosi penjualan dan dan kehumasan (public relation) dan atau kombinasi dari cara-cara tersebut secara konsisten sehingga menimbulkan nama baik perusahaan dan mengharapkan adanya umpan balik yang maksimum yaitu adanya pembelian. Dengan demikian membentuk komunikasi pemasaran dengan melakukan promosi secara terpadu akan memberikan kepercayaan kepada konsumen tentang gambaran produk atau jasa yang dihasilkan, sehingga membentuk citra perusahaan kedalam benak konsumen.
Didalam bauran promosi terdapat komponen-komponen bauran promosi dimana setiap komponen adalah suatu strategi atau program atau taktik yang telah menjadi keputusan manajemen berdasarkan beberapa pertimbangan diantaranya adalah ; pasar sasaran, cakupan, jangkauan dan tujuan umum dari bauran promosi yang dipilih, yang semuanya dipilih untuk membentuk citra perusahaan selanjutnya akan mempengaruhi pembelian. Faktor selanjutnya yang mempengaruhi citra adalah penentuan harga . Menurut Kotler (2006) hal yang paling utama adalah bahwa keputusan penentuan harga harus konsisten dengan strategi pemasaran secara keseluruhan. Perubahan berbagai harga diberbagai pasar juga harus dipertimbangkan Lebih jauh lagi harga spesifik yang ditetapkan akan bergantung pada tipe pelanggan yang menjadi tujuan jasa tersebut. Nilai dari jasa tidak akan ditentukan oleh harga tetapi ditentukan oleh manfaat yang diterima dari jasa yang ditawarkan, dibandingkan dengan total biaya perolehan dan biaya produk atau jasa alternatif lain yang bersaing dengannya. Penentuan harga harus juga dipandang dari orientasi pasar.
Dalam penetapan harga produk/jasa Dickman (1997) megemukakan bahwa para manajer memiliki tanggung jawab untuk menetapkan strategi yang tepat terhadap produk/jasa, sehingga citra tetap terjaga. Perlu dikemukakan bahwa harga yang tinggi dari suatu barang jasa dapat menumbuhkan citra yang tinggi, apabila produk barang/jasa tersebut memilliki nilai yang unik. Namun bukan berarti nilai tersebut bergantung pada nilai harga yang tinggi. Menurut Assael bahwa citra adalah keseluruhan dari persepsi seseorang terhadap suatu hal hal yang dibentuk melalui proses informasi yang diperoleh melalui berbagai media dan berbagai sumber. Media dan sumber disini dapat berupa strategi promosi yang dilaksanakan oleh perusahaan. Hal ini sejalan dengan pendapat Massie dan Anderson (2003) menyatakan bahwa komnikasi pemasaran yang terdiri dari bentuk-bentuk komunikasi berupa promosi akan membentuk kepercayaan konsumen tentang produk/jasa tentang tersebut demikian selanjutnya akan mendukung penjualan barang atau jasa.
Dari pendapat tersebut tentang strategi promosi dan harga maka Clow dan Baack (2003) menyatakan pendapatnya bahwa pentingnya komunikasi pemasaran melalui promosi dan penetapan harga dalam membangun merek, agar citra (image) perusahaan dapat diingat dalam benak konsumen dan diterima oleh konsumen sehingga konsumen dapat mengambil keputusan untuk melakukan pembelian yang akan berimplikasi pada menambah hasil penjualan. Pengendali citra perusahaan terdiri atas etika dan budaya perusahaan, etika para pegawainya, etika bisnis, etika produk yang dihasilkan, komunikasi, tenaga penjual, harga pemasok, pelayanan dan saluran distribusinya, termasuk didalamnya strategi promosinya (Barich dan Kotler, 1991; Gray dan Smelzer,1985 dalam Boyle 1996)
Gumerson dalam Brown at. al (1991) mengatakan bahwa dengan memberikan perbaikan kualitas akan memperbaiki citra perusahaan yang kemudian dapat meningkatkan hasil penjualan, pertumbuhan perusahaan dan mengurangi persaingan. Di bagian lain, Aaeker, 1991; Kapenterer, 1992 dan Zeithaml, 1996 menyatakan bahwa citra merupakan persepsi keseluruhan dibentuk oleh personality dan positioning, dibentuk oleh persepsi konsumen, citra adalah reputasi atau seperangkat asosiasi yang dirangkai dalam bentuk yang bermakna.
Gronroos, 1990 yang menyatakan bahwa pembentukan citra perusahaan dapat dilihat dari ungkapan konsumen tentang 1) recognition; seberapa tinggi nilai perusahaan dan persepsi konsumen 2) Reputation; seberapa kuat brand perusahaan dikenali konsumen 3) Affinity; yaitu hubungan emosional yang terjadi antara brand perusahaan dengan konsumen, 4) Brand Loyalty; seberapa jauh kesetiaan pelanggan menggunakan produk atau jasa perusahaan.
Berdasarkan pendapat para ahli dalam literatur maka dapat dipilih dan dipilah apa yang menjadi faktor pembentuk citra yaitu; identitas kandidat, reputasi kandidat, distribusi kandidat, harga yang ditawarkan kandidat, kualitas kandidat, dan promosi kandidat dengan beberapa vriable pembentuk yaitu; postur fisik, kecakapan, hobi, prestasi, rekam jejak, popularitas, kredibilitas, kapasitas, kompetensi tokoh, iklan politik, publisitas, press release, public relations dan popularitas. Dari sekian banyak variabel tersebut ada beberapa variabel yang mungkin dapat dikelompokkan dalam satu faktor karena adanya korelasi yang sangat kuat satu sama lainnya.
24 Maret jam 2:15
#
MAGISTER MANAJEMEN UNRAM 2008 7.2.4 Pemasaran Politik (Political Marketing)
Pemasaran ditinjau dari lingkupnya (Kotler,2003) mengatakan:
Marketing is typically seen as the task of creating, promoting, and delivering goods and services to consumers and businesses. Konsep marketing (Kotler, 2003) is a societal process by which individuals and groups obtain what they need and want through creating, offering and freely exchanging product and services of value with others. Sedangkan pemasaran politik sebagai suatu proses menurut (Baines & Yorke, 2000) political marketing process as concerned more with the communication process between voter’s and political entities (either parties or candidates) and often neglect the organisational development perspective (of the political entity) in a way that most commercial marketing definitions do not.”

Marketing menurut (Newman, 2006) adalah proses memilih customer, menganalisa kebutuhan mereka dan kemudian mengembangkan inovasi produk, advertising, harga dan strategi distribusi dalam basis informasi. Marketing dalam pengertian Bruce bukan dalam pengertian marketing biasa, melainkan produk politik berupa imeg politisi, platform, pesan politik dan lain-lain yang dikirim ke audiens yang diharapkan menjadi konsumen yang tepat (Newman, 2006).
Pendapat lain dikemukakan oleh Mauser, G yang mendifinisikan marketing sebagai ‘influencing mass behavior in competitive situations’ (Mauser, 1983). Marketing politik dianalogikan kepada marketing komersial. Misalnya di sektor komersial harus memiliki target audience dari pemilih yang harusnya mendukung, menggunakan media massa, dalam sebuah lingkungan kompetitif yang dipadati lebih dari satu ‘brand’ produk. Meskipun memang akan ada perbedaan mendasar antara marketing politik dengan marketing komersial. Misalnya, marketing politik mengukur kesuksesan tidak dalam kerangka keuntungan melainkan dalam hasil voting dan efektivitas power. Political marketing adalah strategi yang mirip aktivitas pemasaran umum yang dipakai dalam bisnis, tetapi ditambah perhitungan faktor politis seperti lobi dan dukungan pihak lain (Semut Api Colony, 2008)
Berdasarkan pendapat tersebut menunjukkan segala aktivitas pemasaran dalam sektor bisnis diarahkan pada upaya untuk mengetahui keinginan pembeli dan kemudian memenuhi apa yang menjadi keinginan dan kebutuhannya agar calon pembeli memutuskan membeli apa yang ditawarkan perusahaan. Ternyata pada pemasaran politikpun demikian, partai politik menawarkan produknya yaitu sang kandidat untuk dapat didukung dan dipilih dalam pemilihan. Partai politik memasarkan sang kandidat agar dapat dikenal dan diingat para pemilih. Untuk itu, tidak jarang sang kandidat harus terjun langsung mendatangi calon pemilih agar dapat mengetahui dan memenuhi keinginan dan kebutuhan para pemilih serta mengarahkan pilihan pemilih. Pembahasan teoritis political marketing di dalam konteks PILKADA bukan hanya persoalan menstimulasi personal untuk urgensi popularitas semata, tetapi sebagai konteks kekuatan sosial yang harus memiliki dampak politik dan ekonomi sehingga political marketing dapat memberikan kontribusi bagi perumusan kebijakan pemerintah daerah yang sangat luas pasca pemilihan, yang diserap secara proaktif dan reaktif dari isu-isu masyarakat, agar kemakmuran masyarakat dapat ditingkatkan secara optimal.
Penggunaan pemasaran untuk tujuan politik inilah yang memunculkan cabang baru pemasaran, yaitu pemasaran politik (Political Marketing). Kotler (1982), memberikan penekanan pada proses transaksi yang terjadi antara pemilih dan kandidat untuk definisi pemasaran politik. Jika dianalogikan pengertian marketing customer (Taylor, 1990) is not about providing products or service it is essentiality about providing changing benefits to the changing needs and demands of customer, maka hal ini sejalan dengan pemasaran di percaturan politik atau Political Marketing. Bukankah dalam memasarkan sang kandidatpun memberi harapan perubahan pada peyediaan kebutuhan dan permintaan masyarakat yang menjadi target audiencenya.
Dampak pemasaran politik bersifat resiprokal artinya politik mempengaruhi pemasaran yang pada akhirnya fungsi pemasaran akan mempengaruhi opini untuk membangun dukungan politik (Candif & Hilger, 1982). Di mana aplikasinya di Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) mengincar terbentuknya makna-makna politik dalam benak konsumen melalui stimulus produk politik. Makna-makna itulah yang akhirnya mengarahkan pilihan pemilih.
Pemasaran politik di Indonesia merupakan keniscayaan. Setidaknya ada lima faktor yang membuat pemasaran politik berkembang di Indonesia: Pertama, sistem multipartai yang memungkinkan siapa saja boleh mendirikan partai politik dan konsekuensinya menyebabkan persaingan tajam antarpartai politik. Kedua, pemilih telah lebih bebas menentukan pilihannya dibandingkan pemilu sebelumnya, sehingga syarat bagi penerapan pemasaran politik terpenuhi. Ketiga, partai-partai lebih bebas menentukan platform dan identitas organisasinya. Keempat, pemilu merupakan momentum sejarah yang penting dalam perjalanan bangsa sehingga pihak-pihak berkepentingan, terutama para elite politik akan berusaha keras untuk ambil bagian. Kelima, sistem pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Kepala Daerah dan Presiden secara langsung.
Sebagai tokoh yang berkapasitas dan berkompetensi untuk menjadi anggota parlemen, perdana menteri (PM), atau calon presiden. Perbedaannya, jika dalam marketing produk bisnis dan industri ending yang diharapkan dari capaian iklan adalah naiknya omzet atau volume penjualan, dalam marketing politik, endingnya adalah tercapainya dukungan politik melalui pemilu. Mungkin yang sama adalah harapan untuk meningkatkan image. Baik dalam marketing barang industri komersial maupun marketing politik, capaian lain yang tidak kalah penting diharapkan adalah image (prestise) dan popularitas. Yakni, image tentang merek dagang serta image dan popularitas pribadi tokoh. Dinamika perkembangan marketing politik seperti itulah yang belakangan juga memperlihatkan diri di Indonesia. Itu merupakan imbas perkembangan serupa yang terjadi di negara-negara yang secara ekonomi dan politik telah mencapai tahap maturasi (matang).
7.2.5 Citra dalam Pemasaran Politik
Setelah dikemukakan mengenai pengertian mengenai citra maka selanjutnya citra tersebut dikaitkan dengan pemasaran politik. Citra dalam pemasaran politik diartikan sebagai persepsi pemilih perseorangan/organisasi. Selanjutnya sebagaimana pula citra dalam pemasaran bisnis/komersial, citra dalam pemasaran politik yaitu segala kegiatan yang berkaitan dengan fakot-faktor pembentuk persepsi pemilih seperti identitas kandidat, reputasi kandidat, sarana fisik kandidat, harga yang ditawarkan kandidat, kualitas kandidat dan tim sukses kandidat
Selain itu, untuk lebih mendekatkan programnya para kandidat menggunakan pedekatan media dalam mengenalkan dirinya kepada khalayak pemilih seperti publisitas, press release, public relation. Strategi tersebut sangat diperlukan, mengingat sebagian besar penduduk kita berada di daerah yang relatif jauh untuk dijangkau.
Dalam praktik Pemilu 2009, marketing politik dapat kita amati dalam proses kampanye politik baik melalui media lini atas (above line media), media lini bawah (below line media), maupun pendekatan media baru (new media campaign). Beragam aktivitasnya misalnya, iklan politik, publisitas, public relations dan lainnya. Kampanye menurut Roger dan Storey serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu (Roger & Storey, 1987).
Pendapat ini didukung oleh George Michael (1999) bahwa dalam rangka melakukan strategi komunikasi data diakukan dengan berbagai cara seperti; periklanan, pemasaran langsung, promosi penjualan dan dan kehumasan (public relation) dan atau kombinasi dari cara-cara tersebut secara konsisten sehingga menimbulkan nama baik perusahaan dan mengharapkan adanya umpan balik yang maksimum yaitu adanya pembelian. Dengan demikian membentuk komunikasi pemasaran dengan melakukan promosi secara terpadu akan memberikan kepercayaan kepada konsumen tentang gambaran produk atau jasa yang dihasilkan, sehingga membentuk citra perusahaan kedalam benak konsumen.
Dalam praktik Pemilu 2009, marketing politik dapat kita amati dalam proses kampanye politik baik melalui media lini atas (above line media), media lini bawah (below line media), maupun pendekatan media baru (new media campaign). Beragam aktivitasnya misalnya, iklan politik, publisitas, public relations dll. Kampanye menurut Roger dan Storey serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu. (Roger & Storey, 1987).
24 Maret jam 2:15
#
MAGISTER MANAJEMEN UNRAM 2008 7.3 Kerangka Konseptual Penelitian
Berdasarkan Tinjauan Pustaka dan Landasan Teori dapat ditarik catatan mengenai variabel dan faktor-faktor yang merupakan pembentuk Citra khususnya Citra Kandidat yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Dari tinjauan pustaka terlihat bahwa ada beberapa hal (variabel) yang membentuk citra yaitu seperti penelitian yang dilakukan Meilani, (2007) menggunakan variabel kualitas, harga, mode, iklan, dan distribusi sebagai varibel yang membentuk citra produk yang diteliti pengaruhnya terhadap keputusan pembelian secara individu dan bersama-sama. Sedangkan Astuti (2008) menemukan bahwa Citra Kandidat merupakan salah satu variabel yang membentuk faktor produk. Secara keseluruhan faktor-faktor yang digunakan Meilani (2008) adalah faktor produk : Citra kandidat (X1), Kemampuan orasi/debat (X2), Program yang ditawarkan (X3), untuk factor promosi : Iklan kandidat (X4), Publisitas kandidat (X5), untuk factor distribusi : kesediaan menemui dan bersama masyarakat (X6), kesediaan mendatangi tokoh masyarakat (X7), Dukungan partai politik (X8), dan factor harga : kelayakan kandidat untuk memimpin (X9), percaya akan keberhasilan kandidat (X10), dan keyakinan pemilih akan pilihannya (Y). Syafei, (2004) menunjukkan bahwa sebagian besar pelanggan beranggapan popularitas nama bengkel menjadikan manfaat jasa bengkel resmi yang sangat besar dan merupakan bagian yang penting dalam pemilihan suatu jasa bengkel, sehingga sedemikian rupa memberikan keyakinan akan jasa bengkel yang handal dan berkualitas. Mustofa, (2009) mengatakan bahwa bentuk pencitraan diri kandidat terdiri dari ; kualitas pribadi tokoh seperti postur fisik, kecakapan, hobi, prestasi, rekam jejak, dan kemampuan tertentu seperti kredibilitas, kapasitas, serta kompetensi tokoh yang dianggap istimewa, bisa ''dipromosikan'' sebagai bentuk pencitraan diri.
Sedangkan pengertian dari citra adalah persepsi masyarakat terhadap perseorangan/perusahaan atas komponen-komponen identitas perusahaan, reputasi perusahaan, sarana fisik, harga yang ditawarkan, kualitas jasa dan personal yang mengoperasikan dan menyampaikan jasa. Maka dengan sendirinya komponen-komponen tersebut merupakan faktor-faktor pembentuk citra. Selanjutnya dalam penelitian ini variabel dan faktor-faktor pembentuk citra di atas akan diidentifikasi menjadi sebagai berikut:
1. Faktor-faktor pembentuk citra adalah identitas kandidat, reputasi kandidat, distribusi kandidat, harga yang ditawarkan kandidat, kualitas kandidat, promosi kandidat.
2. Variabel pembentuk citra kandidat adalah postur fisik, kecakapan, hobi, prestasi, rekam jejak, popularitas, kredibilitas, dukungan partai politik, kompetensi tokoh, iklan politik, publisitas, press release, public relations dan popularitas.
Dari sekian banyak variabel tersebut ada beberapa variabel yang dapat dikelompokkan dalam satu faktor. Hal ini terjadi karena adanya korelasi yang sangat kuat satu sama lain. Dengan maksud mempermudah memahami variabel yang mempengaruhi, maka variabel-variabel yang ada tersebut kemudian direduksi menjadi beberapa variabel-variabel yang berkolerasi.
Gambar 1. Kerangka Konseptual Penelitian

Hubungan antara variabel-variabel dan faktor-faktor yang dicurigai sebagai
pembentuk citra kandidat

24 Maret jam 2:16
#
MAGISTER MANAJEMEN UNRAM 2008 8. Metode Penelitian
Metode penelitian menurut Sugiyono (2008) merupakan cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data yang obyektif, valid dan reliabel, dengan tujuan dapat ditemukan, dibuktikan dan dikembangkan suatu pengetahuan, sehingga dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah. Pelaksanaan penelitian memerlukan metode yang sesuai dengan pokok-pokok permasalahan yang diteliti, agar perolehan data yang dikehendaki menjadi relevan dengan permasalahan yang ada, dengan demikian metode penelitian sangat diperlukan untuk mempermudah penulisan, penyusunan dan pelaporan hasil penelitian.
8.1 Jenis Penelitian
Ditinjau dari pendekatan penelitian Bungin (2006), maka penelitian ini di kategorikan kedalam penelitian survey dengan pendekatan kuantitif deskriptif. Menurut Arikunto (1998) ”Penelitian Deskriptif adalah penelitian yang dilakukan dengan menjelaskan/menggambarkan variabel masa lalu dan sekarang (sedang terjadi)”. Metode survey digunakan dalam penelitian ini, yaitu suatu metode pengumpulan data primer dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada responden individu (Jogiyanto, 2004).
Berdasarkan rumusan masalahnya maka penelitian ini merupakan penelitian dengan rumusan masalah deskriftif. Sugiono (2008) mengatakan bahwa rumusan masalah deskriptif merupakan suatu pertanyaan penelitian yang bersifat menggambarkan keberadaan suatu variable atau lebih pada dua atau lebih sample yang berbeda. Berdasarkan dimensi waktu, penelitian ini dikategorikan ke dalam penelitian cross sectional artinya hanya mengambil data penelitian pada satu kurun waktu tertentu, mungkin selama periode harian mingguan atau bulanan dalam rangka menjawab hipotesis penelitian (Sekaran, 2003).
Berdasarkan jumlah variable, maka penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif multivariate yang interdependence. Ariestonandri (2006), mengatakan bahwa analisis faktor merupakan analisis multivariat kelompok interdependen. Analisis ini bertujuan untuk menemukan hubungan antar sejumlah variabel yang saling independen sehingga bisa dibuat satu atau beberapa kumpulan variabel yang lebih sedikit dari jumlah variabel awal.
8.2 Populasi dan Sampel Penelitian
Sugiono (2008) mengatakan bahwa populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat yang terdata dalam Daftar Pemilih, dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 8.1
Jumlah Daftar Pemilih di Daerah Pemilihan Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat (Februari 2010)
No. Kelurahan/Desa Laki-Laki Perempuan Jumlah
1 Kelurahan Kuang 2004 2209 4213
2 Kelurahan Dalam 2094 2137 4231
3 Kelurahan Sampir 1437 1528 2965
4 Kelurahan Menala 2168 2249 4417
5 Kelurahan Bugis 1122 1081 2203
6 Kelurahan Telaga Bertong 1261 1248 2509
7 Desa Tamekan 312 370 682
8 Desa Batu Putih 931 831 1762
9 Desa Banjar 420 415 835
10 Desa Lab.Lalar 851 847 1698
11 Desa Lab.Kertasari 625 606 1231
12 Desa Lalar Liang 538 559 1097
13 Desa Seloto 683 767 1450
Jumlah Populasi 14.446 14.847 29.293
Sumber: Panwaslu Kabupaten Sumbawa Barat

Tabel 8.2
Jumlah Daftar Pemilih di Daerah Pemilihan Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat Menurut Jenjang Pendidikan (Februari 2010)
Sumber: Data yang telah diolah dari berbagai sumber

Selanjutnya, untuk menentukan jumlah sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini, digunakan rumus Slovin (Umar, 2001;78) yaitu:
N
n = ---------- (1)
1 + Ne2
Dimana:
n = Ukuran/Jumlah Sampel
N = Ukuran/Jumlah Populasi
e = Persentase kesalahan dalam pengambilan sampel
Dengan asumsi persentase kesalahan pengambilan sampel adalah 10% maka besarnya sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah:
29293 29293
n = ---------------------- = ---------- = 99,659 = 100 orang
1 + (29293 x 0,01) 293,93
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Probability Sampling. Menurut Sugiono (2008) Probability Sampling adalah teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur/anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel.
Mengingat populasi daftar pemilih di daerah pemilihan Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat heterogen jika dilihat dari jenjang pendidikan yang berbeda, maka cara pengambilan sampelnya menggunakan metode Proportionte Stratified Random Sampling yaitu teknik yang digunakan apabila populasi mempunyai anggota atau unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proposional (Sugiono, 2008).
Berdasarkan banyaknya sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 100 orang, maka dapat ditentukan jumlah sampel berdasarkan jenjang pendidikan yang terdapat di daftar pemilih di daerah pemilihan Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat sebagai berikut:
Diketahui:
- Populasi penelitian sebanyak 29.293 orang
- Sampel penelitian sebanyak 100 orang
- Persamaan penetuan sampel (Umar, 2001) pada setiap jenjang pendidikan:
b
A = ------- x d (2)
c
dimana:
A = Sampel Penelitian setiap jenjang pendidikan
b = Populasi setiap jenjang pendidikan
c = Populasi penelitian
d = Sampel penelitian
Berdasarkan persamaan tersebut, maka secara rinci banyaknya sampel untuk setiap jenjang pendidikan ditampilkan pada tabel berikut:
Tabel 8.3
Jumlah Sampel Daftar Pemilih di Daerah Pemilihan Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat Menurut Jenjang Pendidikan (Februari 2010)

Sumber: Data yang telah diolah berdasarkan persamaan di atas
24 Maret jam 2:16
#
MAGISTER MANAJEMEN UNRAM 2008 8.3 Jenis dan Sumber Data
8.3.1 Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
8.3.1.1 Data Kualitataif
Merupakan data berupa dokumen pribadi, catatan lapangan, ucapan dan tindakan berupa penjelasan, uraian dan tanggapan dari responden yang tidak dapat diukur seca langsung, jadi hanya berupa keterangan-keterangan. Data kualitatifdinyatakan dalam bentuk kata, kalimat dan gambar (Sugiono, 2002).
8.3.1.2 Data Kuantitatif
Merupakan data hasil pengukuran variable yang dioperasionalkan dengan menggunakan instrumen yang dinyatakan dalam angka (Sugiono, 2002).
8.3.2 Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
8.3.2.1 Data Primer
Data primer, merupakan data yang diperoleh dan dikumpulkan dari lapangan, dalam hal ini data primer diperoleh dari jawaban responden yang disebar melalui kuesioner.
8.3.2.2 Data Sekunder
Data skunder, berupa data yang diperoleh dari jurnal, makalah ilmiah, buku-buku referensi dan/atau hasil penelitian yang telah didokumentasikan ole pihak lain.
8.4 Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Teknik dalam pengumpulan data pada penelitian ini yaitu dengan melakukan penyebaran kuesioner terhadap responden yang telah dipilih secara acak. Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data primer dalam penelitian ini adalah kuesioner. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala interval. Skala interval yang digunakan adalah skala likert. Skala ini berinterasi 1-5 dengan pilihan jawaban sebagai berikut: - ( 1 ) Sangat Tidak Setuju (STS) - ( 2 ) Tidak Setuju (TS) - ( 3 ) Netral (N) - ( 4 ) Setuju (S) - ( 5 ) Sangat Setuju (SS). Data yang diolah dalam rangka menjawab rumusan masalah berupa data primer yang diperoleh dari hasil tanggapan responden atas daftar pernyataan (kuesioner). Penyebaran kuesioner dilakukan kepada seluruh responden berdasarkan jumlah sample yang ditetapkan yaitu 100 responden. Metode pengumpulan data kuesioner pada penelitian ini adalah dengan menggunakan Metode Personnally Administrated Qustonnaires, yaitu peneliti menyampaikan sendiri kuesioner kepada responden dan mengambil sendiri kuesioner kepada responden, tujuan utamanya supaya tingkat pengembalian kuesioner dapat terjaga di dalam periode waktu yang relatif pendek (Sekaran, 2003).
8.5 Identifikasi dan Definisi Opersional Variabel
8.5.1 Identifikasi Variabel
Identifikasi variabel dimaksudkan untuk mengidentifikasi variabel-variabel penelitian dan untuk merinci mengenai pemahaman terhadap variabel-variabel tersebut. Variabel penelitian ini terdiri dari variabel dependen dan variabel independent. Variabel devenden (Y) adalah Citra Kandidat, sedangkan variabel independent adalah Identitas Kandidat (X1), Reputasi Kandidat (X2), Distribusi Kandidat (X3), Harga yang Ditawarkan Kandidat (X4), Kualitas Kandidat (X5), Promosi Kandidat (X6).
8.5.2 Definisi Opersional Variabel
Berdasarkan pendapat para ahli dalam literatur maka dapat dipilih dan dipilah apa yang menjadi faktor pembentuk citra yaitu; identitas kandidat, reputasi kandidat, distribusi kandidat, harga yang ditawarkan kandidat, kualitas kandidat, dan promosi kandidat dengan beberapa variable pembentuk yaitu; postur fisik, kecakapan, hobi, prestasi, rekam jejak, popularitas, kredibilitas, dukungan partai politik, kompetensi tokoh, iklan politik, publisitas, press release, public relations dan popularitas. Dari sekian banyak variabel tersebut ada beberapa variabel yang dapat dikelompokkan dalam satu faktor karena adanya korelasi yang sangat kuat satu sama lainnya yang kemudian direduksi. Untuk lebih jelas makna dari variabel yang akan diteliti, maka perlu diberikan definisi operasional sebagai berikut:
1) Identitas Kandidat; ciri-ciri, tanda-tanda (khas) kandidat.
Terdiri dari beberapa indikator variabel yang mengacu pada pengukuran instrumen sebagai berikut:
- Postur Fisik; peformance atau penampilan fisik kandidat
- Hobi; kegemaran kandidat terhadap sesuatu seperti musik, olahraga, dan lain-lain
2) Reputasi Kandidat; anggapan terhadap nama baik
Terdiri dari beberapa indikator variabel yang mengacu pada pengukuran instrumen sebagai berikut:
- Prestasi; keberhasilan yang telah dicapai kandidat
- Rekam Jejak; latar belakang kehidupan kandidat
- Popularitas; kepopuleran atau ketenaran kandidat
3) Distribusi Kandidat; saluran kandidat
Terdiri dari beberapa indikator variabel yang mengacu pada pengukuran instrumen sebagai berikut:
- Dukungan Partai Politik; dukungan partai politik parlemen dan non parlemen
- Public Relations; hubungan kemasyarakatan oleh kandidat
4) Harga yang Ditawarkan Kandidat; nilai yang ditawarkan kandidat
Terdiri dari beberapa indikator variabel yang mengacu pada pengukuran instrumen sebagai berikut:
- Press Release; siaran pers yaitu keterangan resmi tentang program, visi dan misi kandidat
- Kompetensi Tokoh; kemapuan ketokohan
5) Kualitas Kandidat, mutu kandidat
Terdiri dari beberapa indikator variabel yang mengacu pada pengukuran instrumen sebagai berikut:
- Kredibilitas; kepercayaan terhadap kandidat
- Kecakapan; keadaan kandidat yang cepat dan tanggap dalam bertindak
6) Promosi Kandidat; kegiatan promosi oleh kandidat
Terdiri dari beberapa indikator variabel yang mengacu pada pengukuran instrumen sebagai berikut:
- Iklan Politik; iklan kandidat yang dipasang melalui baliho, spanduk, stiker di tempat-tempat strategis kota Taliwang Sumbawa Barat, untuk mengenalkan para kandidat dan memudahkan mengingat bagi pemilih.
- Publisitas; pengenalan kandidat beserta program dan janji politiknya lewat media cetak dan elektronik.
8.6 Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian
8.6.1 Uji Validitas Instrumen Penelitian
Validitas menunjukkan sejauh mana skor/nilai/ukuran yang diperoleh benar-benar menyatakan hasil pengukuran/pengamatan yang ingin diukur (Agung, 1990). Uji validitas dilakukan dengan mengukur korelasi antara variabel/item dengan skor total variabel. Cara mengukur validitas konstruk yaitu dengan mencari korelasi antara masing-masing pertanyaan dengan skor total menggunakan rumus Teknik Korelasi Product Moment, sebagai berikut :


(3)


Dimana:
r : koefisien korelasi product moment
X : skor tiap pertanyaan/ item
Y : skor total
N : jumlah responden
Setelah semua korelasi untuk setiap pertanyaan dengan skor total diperoleh, nilai-nilai tersebut dibandingkan dengan nilai kritik. Selanjutnya, jika nilai koefisien korelasi product moment dari suatu pertanyaan tersebut berada di atas nilai tabel kritik, maka pertanyaan tersebut signifikan.
8.6.2 Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian
Reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Singarimbun, 1989). Setiap alat pengukur seharusnya memiliki kemampuan untuk memberikan hasil pengukuran relatif konsisten dari waktu ke waktu. Dalam penelitian ini teknik untuk menghitung indeks reliabilitas yaitu dengan teknik belah dua. Teknik ini diperoleh dengan membagi item-item yang sudah valid secara acak menjadi dua bagian. Skor untuk masing-masing item pada tiap belahan dijumlahkan, sehingga diperoleh skor total untuk masing-masing item belahan. Selanjutnya skor total belahan pertama dan belahan kedua dicari korelasinya dengan menggunakan teknik korelasi product moment. Angka korelasi yang dihasilkan lebih rendah daripada angka korelasi yang diperoleh jika alat ukur tersebut tidak dibelah. Cara mencari reliabilitas untuk keseluruhan item adalah dengan mengkoreksi angka korelasi yang diperoleh menggunakan rumus:

(4)



8.7 Teknik Analisis Data
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknis analisis deskriptif dan analisis faktor yaitu sebagaimana dijelaskan di bawah ini:
1. Analisis Deskriptif, digunakan untuk menggambarkan hasil penelitian di lapangan. Terutama yang berkaitan dengan responden penelitian dan variabel penelitian.
2. Analisis Faktor, merupakan teknik statistik multivariat yang digunakan untuk mereduksi variabel menjadi faktor. Dalam penelitian ini, analisis faktor digunakan untuk mengetahui variabel yang menjadi faktor-faktor pembentuk citra kandidat pada PILKADA 2010 Kabupaten Sumbawa Barat, khususnya pada daerah pemilihan Kecamatan Taliwang. Sebelum dilakukan analisis akan dilakukan uji asumsi dengan menggunakan Kaiser Mayer Olkin dan Barrlett’s of Sphericity.
Tujuan analisis faktor adalah menggunakan matriks korelasi hitungan untuk; 1) Mengidentifikasi jumlah terkecil dari faktor umum (yaitu model faktor yang paling parsimoni) yang mempunyai penjelasan terbaik atau menghubungkan korelasi di antara variabel indikator, 2) Mengidentifikasi, melalui faktor rotasi, solusi faktor yang paling masuk akal, 3) Estimasi bentuk dan struktur loading, komunality dan varian unik dari indikator 4) Interpretasi dari faktor umum, 5) Jika perlu, dilakukan estimasi faktor skor (Sharma, 1996).
Analisis faktor adalah analisis yang bertujuan untuk menggambarkan hubungan-hubungan kovarian antara beberapa variabel yang mendasari tetapi tidak teramati, kuantitas random yang disebut faktor, vektor random teramati X dengan p komponen, memiliki rata-rata dan matrik kovarian. Model analisis faktor adalah sebagai berikut (Johnson & Wichern, 2002):
(5)



Atau dapat ditulis dalam notasi matrik sebagai berikut (Johnson & Wichern, 2002):
(6)
dengan
rata-rata variabel i
faktor spesifik ke – i
common faktor ke- j
loading dari variabel ke – i pada faktor ke-j
Bagian dari varian variabel ke – i dari m common faktor disebut komunalitas ke – i yang merupakan jumlah kuadrat dari loading variabel ke – i pada m common faktor dengan rumus (Johnson & Wichern, 2002):

(7)
Data yang sudah dikumpulkan kemudian dianalisa dengan teknik analisis faktor menggunakan program SPSS untuk sistem operasi windows sebagai alat bantu dalam pengolahan data. Analisa dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1. Memeriksa kelayakan variabel dengan menggunakan Kaiser Meyer Olkin (KMO) Measure Of Sampling Adequacy. Variabel yang akan digunakan dikatakan layak apabila KMO > 0,5 atau Barlett’s Test of Sphericity menunjukkan tingkat yang signifikan yaitu apabila nilainya lebih kecil dari 0,05 (Santoso & Tjiptono, 2001).
2. Menentukan banyaknya faktor, hal ini dilakukan melalui prosedur Principal Component Analysis.
3. Rotasi dengan menggunakan Prosedur Component Analysis dengan tujuan untuk mengetahui variabel mana yang masuk ke dalam faktor tertentu.
4. Menentukan nama faktor yang diambil dari variabel yang memiliki loading factor terbesar.
Adapun untuk uji Kaiser Meyer Olkin (KMO) dan uji Barlett’s Test of Sphericity, dijelaskan sebagai berikut:
Kaiser Meyer Oikin (KMO)
Uji KMO bertujuan untuk mengetahui apakah semua data yang telah terambil telah cukup untuk difaktorkan. Hipotesis dari KMO adalah sebagai berikut:
H0 : Jumlah data cukup untuk difaktorkan
H1 : Jumlah data tidak cukup untuk difaktorkan
Statistik uji (Sharma, 1996):
KMO = (8)
i = 1, 2, 3, ..., p dan j = 1, 2, ..., p
rij = Koefisien korelasi antara variabel i dan j
aij = Koefisien korelasi parsial antara variabel i dan j
Apabila nilai KMO lebih besar dari 0,5 maka diterima H0 sehingga dapat disimpulkan jumlah data telah cukup difaktorkan.
Barlett’s Test of Sphericity
Uji Bartlett bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara variabel dalam kasus multivariat. Jika variabel X1, X2,…,Xp independent (bersifat saling bebas), maka matriks korelasi antar variabel sama dengan matriks identitas. Sehingga untuk menguji kebebasan antar variabel ini, Bartlett Test menyatakan hipotesis sebagai berikut:
H0 : ρ = I
H1 : ρ ≠ I
Statistik Uji (Sharma, 1996):
, k = 1, 2,...,p
(9)

Dengan :
= rata-rata elemen diagonal pada kolom atau baris ke k dari matrik R (matrik korelasi)
= rata-rata keseluruhan dari elemen diagonal
Daerah penolakan (Sharma, 1996):
tolak H0 jika
(10)

Maka variabel-variabel saling berkorelasi hal ini berarti terdapat hubungan antar variabel. Jika H0 ditolak maka analisis multivariat layak untuk digunakan terutama metode analisis komponen utama dan analisis faktor.
Data yang digunakan untuk mempelajari analisis faktor ini adalah data survei terhadap pemilih di daerah pemilihan Kecamatan Taliwang pada Pilkada 2010 Kabupaten Sumbawa Barat. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel pembentuk dari Citra Kandidat yang telah diidentifikasi berdasarkan Tinjauan Pustaka dan Landasan Teori yang meliputi: postur fisik, kecakapan, hobi, prestasi, rekam jejak, popularitas, kredibilitas, kapasitas, kompetensi tokoh, iklan politik, publisitas, press release dan public relations. Sedangkan faktor-faktor yang diharapkan akan meringkaskan data tersebut adalah identitas kandidat, reputasi kandidat, distribusi kandidat, harga yang ditawarkan kandidat, kualitas kandidat dan promosi kandidat.
24 Maret jam 2:17
#
MAGISTER MANAJEMEN UNRAM 2008 9. Jadwal Penelitian
No. Tahapan 2009 2010
10 11 12 1 2 3 4
1 Persiapan

2 Konsultasi usulan penelitian dan seminar usulan penelitian
3 Pelaksanaan penelitian

4 Penyusunan data dan penyusunan tesis
5 Ujian tesis


24 Maret jam 2:17
#
MAGISTER MANAJEMEN UNRAM 2008

PERSETUJUAN USULAN PENELITIAN TESIS





ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PEMBENTUK CITRA KANDIDAT PADA PILKADA 2010 KABUPATEN SUMBAWA BARAT





diajukan oleh:
ABDUL KHALID PURNAPUTRA
NIM: I2A008001




Mataram, 2010
Pembimbing Utama


Drs. H. Budi Santoso, M.Com., Ph.D.
NIP: 19600712 198603 1 002 Mataram, 2010
Pembimbing Pendamping


Junaidi Sagir, SE., MBA.
NIP: 19591224 198903 1 003
24 Maret jam 2:18
#
MAGISTER MANAJEMEN UNRAM 2008 DAFTAR PUSTAKA

Ariestonandri, Prima (2006) ”Marketing Research for Beginner; Panduan Praktis Riset Pemasaran Bagi Pemula” Andi Ofset : Yogyakarta

Ali, Novel, (1996) “"Citra Politik Kita" Media Indonesia : Semarang

Bungin, Burhan., (2006). “Metode Penelitian Kuantitatif : Komunikasi, Ekonomi, dan Kebijakan Publik serta Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya.” Jakarta : Kencana

Cravens, David W. & Nigel F. Piercy, (2006), Strategic Marketing, Eighth Edition, McGraw-Hill Irwin, Boston.

Clow, E. Kenneth & Baack, Donald, (2002) “Integrated Advertising, Promotion and Marketing” International Journal of Banking Marketing, Vol. 13 No. 3 p 12-17.

Dickman, Sharon (1997) “Art Marketing The Pocket Guide” Australia : Australia Councill.

Hughes, Robert. Et al. (1999) “Marketing Strategies for Art Organization” Australia : Australia Councill.

Heryanto, 2009, Marketing Politik Melalui Media Massa, 28 Februari 2009 tersedia di http://gunheryanto.blogspot.com/2009/02 (Diakses 07 Maret 2010)

Irwanto dkk..(1988). Proyek Pengembangan Mata Kuliah. Jakarta. Unika Atma Jaya. Irwanto, dkk.. 1988. Psikologi Umum. Jakarta : Pusat Penelitian Unika Atma Jaya.

Johnson, N. And Wichern, D. (1998). Applied Multivariate Statistical Analysis, Prentice-Hall, Englewood Cliffs, N.J.

Kotler, Philip & Armstrong, Gary, 2004, Principles of Marketing, Tenth Edition, Pearson Prentice Hall , New Jersey.

Kotler, Philip & Gary Armstrong (2006) ”Principles of Marketing” Eleventh Edition, Pearson Prentice Hall , New Jersey.

Kotler, Philip & Kevin Lane Keller (2006) “Marketing Management” Twelfth Edition, Pearson

Kotler, Philip & Kevin Lane Keller (2006) “Marketing Management” Twelfth Edition, Pearson Kotler, Philip. '2001. Manajemen Pemasaran di indonesia Edisi Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Salemba Empat.

Keller, Kevin Lane, (2003), Strategic Brand Management : Building,Measuring, And Managing Brand Equity, Second Edition, Pearson Prentice Hal , New Jersey.

Khalifa, Azaddin Salem, (2004), Customer Value : A Review of Recent Literature and An Integrative Configuration, Management Decision, Vol. 42, No. 5, pp. 645-666.
Lovelock, Christoper H & Lauren. K. Wright, (2002), Principles of Service Marketing and Management, Second Edition, Prentice Hall International Inc., New Jersey.

Newman, Bruce., (1999) “The Mass Marketing of Politics Democracy in An Age of Manufactured Images”, (London, New Delhi : Sage Publications,), h. 3

Newman, Bruce (1991) I (ed.), Handbook of Political Marketing, (London : Sage Publication Inc.,), h. 6-10

Newman, Bruce I and Perloff, Richard M, (2004) Political Marketing : Theory, Research and Applications, in Kaid, Lynda Lee, Handbook of Political Communications Research, (London : Lawrence Erlbaum Associates Publisher,), H.24

Mauser, G., (1983) “Political Marketing : An Approach to Campaign Strategy”, (New York : Praeger, 1983), h.5

Meilani, Sarah DK (2007), “Analisis pengaruh citra produk kosmetik Sariayu Martha Tilaar terhadap keputusan pembelian (studi pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret di Surakarta)”

Martinez, Eva & Jose M. Pina, (2003), The Negative Impact of Brand Extensions on Parent Brand Image, Journal of Product & Brand Management, Vol. 12., No. 7, pp. 432-448.

Massie, Lisa & Anderson, Christina L (Integrating Communication; Is Ideal Achievable? Corporate Communication : An International Journal Vol. 8 No. 4 p 223-228.

Morling, Miriam S & Lars Strannegard, (2004), Silence of the Brands, European Journal of Marketing, Vol. 38, No. 1 / 2, pp. 224-238.

Myers, Chris A., (2003), Managing Brand Equity : A look at The Impact ofAttributes, Journal of Product & Brand Management, Vol. 12, No. 1, pp. 39-51.

Marketing Politik Melalui Media Massa Dalam Pemilu 2009 : Analisa Dari Teori Agenda Setting Dan Teori Spiral Of Silence http://gunheryanto.blogspot.com

Mustofa, Arif (2009) "Analisa Semiotik Pada Iklan Sby – Boediono” ( Versi Harian Kompas Periode Mei - Juli 2009 ) Diposkan oleh.Ikom FS: tofa_sudiro@yahoo.com FB: riefikom.utm@gmail.com

Robbins, Stephen P. (2001). Perilaku Organisasi (Konsep, Kontroversi, Aplikasi). Jakarta : Prenhallindo.

Robbins, Stephen P. (2003). Perilaku organisasi. Jakarta : PT. Indeks Kelompok GRAMEDIA

Robbins, S.P. (1998). Organizational behavior. 8th edition. New Jersey: Prentice Hall.

Roger, EM & Storey J.D. (1987) “Communication Campaign. In C.R. Berger & S.H Chaffee; (ed..), Handbook of Communications Science”, (New Burry Park, CA : Sage,)

Schiffman, L.G., dan L.L. Kanuk. (2002). Consumer Behavior. 7th edition. New Jersey:Prentice Hall.

Sinaga, Verawati (2008) ” Pengaruh Citra Merek (Brand Image) Terhadap Proses Keputusan Pembelian Konsumen (Studi Pada Pengguna Kosmetik Merek Avon Di Kota Bandung)”.

Smith, Constance (2002) ”Art Marketing 101” USA Art Network : Nevada City.

Syafei, Yani M. (2004) “Pengaruh Citra Merek Dan Penyampaian Jasa Bengkel Resmi Terhadap Nilai Pelanggan Serta Dampaknya Pada Keputusan Pembelian Pelanggan; (Suatu Survey Terhadap Kendaraan MPV 2000 cc ke bawah Pada Bengkel Resmi Dealer Mobil Di Bandung)”, Universitas Padjadjaran : Bandung

Sharma, S. (1996). Applied Multivariate Techniques, New-York: John Wiley & Sons, Inc.

Sugiono, (2008).”Metode Penelitian Bisnis : Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D” Alfabeta : Bandung

Thoha, M. (1998). ”Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya”. Jakarta : CV. Rajawali.

Widji Astuti, (2008) “Peranan Pemasaran Politik Kandidat Dalam Meyakinkan Pemilih Pada Pilkada Kota Malang” National Conference on Management Research 2008 Makassar, 27 November 2008 .

Widayatun, Mukmin, Tri., (1999) “Ilmu Prilaku” CV. Sagung Seto : Jakarta

Walgito, Bimo (2002) “Pengantar Psikologi Umum”. Yogyakarta. Andi offset.

Walgito, Bimo (2003) ”Psikologi Sosial (Suatu Pengantar)”. Yogakarta. Andi Offset.

Winardi, J. (2004) “Manajemen Perilaku Organisasi”. Jakarta : Prenada Media.

Venetis, Karin A & Ghauri, Pervez N. (2004) “Service Quality and Customer Retention : Building Long-Term Relationships”, European Journal of Marketing, Vol. 38, No. 11/12, pp. 1577-1598.

Youl Ha, Hong, (2004) “Factors Influencing Consumer Perceptions of Brand Trust online, Journal of Product & Brand Management, Vol. 13, No. 5, pp. 329-342.

http://tarmidzi.wordpress.com6 Februari 2009
______, “Political Marketing & Personal Branding dalam Pilkada” May.18, 2008; Semut Api Colony; http://monitordepok.com

(Sumber: http://www.facebook.com/topic.php?uid=337017675015&topic=16086)
 

Komentar:




Home : scriptintermedia.com
 
Berita Lain
Pilkada Sulsel Jadi Ajang Pemanasan Pilpres 2014

Pasangan Calon Perlu Konsultan Hukum

Nomor Urut pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Jepara 2012

2012, Tahun Pilgub Sulsel

Pemilukada Serentak Bisa Jadi Bumerang

2012, Jateng akan Gelar Pilkada di Lima Daerah

Biografi/Profil Muhammad Nazar


Untitled Document
 



    Portfolio Real Quick Count Pilkada

- Pilgub Sulteng (Sulawesi Tengah)
- Pilgub Banten
- Pilgub Sulbar (Sulawesi Barat)
- Pemilukada Kota Jogja
- Pemilukada Kab. Buru, Maluku
- Pemilukada Torut Put. 2
- Pemilukada Malinau, Kaltim
- Pemilukada Kubar, Kaltim
- Pemilukada Rokan Hulu, Riau
- Pemilukada Nunukan, Kaltim
- Pemilukada Sragen, Jateng
- Pemilukada Kaur, Bengkulu
- Pemilukada Sarolangun, Jambi

Selanjutnya...



Untitled Document
 

 

    Artikel IT
Inilah Cara Internet Selamatkan Jepang

Pentingnya Teknologi Informasi untuk kesinambungan bisnis

Laporan Malware 2010: 10 Ancaman Teratas Setahun Terakhir

Inilah Inovator Muda Finalis IWIC 2010

PIN BlackBerry Jadi Alat Jejaring Sosial

Pendiri Facebook Menjadi Tokoh Tahun Ini

Ancaman Baru di Era Twitter dan Facebook

    IT News
Plus Minus Windows 8

Daftar 17 Teknologi Akan Memudar di 2012

Sulap Akun Fb jadi Sarana Promosi Diri

10 Kisah Terbesar Dunia Teknologi di 2011

5 Jurus Menangkal Rayuan Virus di Chat Facebook

5 Kiat Aman Belanja Online

10 Teknologi Strategis untuk 2011

    Berita Umum
2 Pembalap Bone Juara di Clas Mild Road Race

TNBNW Rusak, Gorontalo Bisa Tenggelam

Asuransi Delay Diberlakukan Januari 2012

Syahrul Jadi Ketua APPSI, Muallim Ketum Forsesdasi

Nanan Soekarna Ketua Umum PP IMI

Abraham Samad pimpin KPK

Peluang Kajian Keterbukaan Informasi Publik

+ Index   
 Copyright ©2010 Script Intermedia - All rights reserved
 Please send any comments to  webmaster@scriptintermedia.com